ASKEP DISPEPSIA PDF

Pengertian Dispepsia adalah rasa nyeri atau tidak enak di perut bagian ulu hati NN, Pendapat lain menyebutkan bahwa dispepsia adalah kelainan di dalam tubuh akibat reaksi tubuh terhadap keadaan sekeliling yang menimbulkan gangguan ketidakseimbangan metabolisme yakni makanan di dalam saluran pencernaan, terutama menyerang usia produktif 30 - 50 tahun NN, Sedangkan menurut Mansjoer, Triyanti, Savitri, Wardhani dan Setiowulan, dispepsia merupakan kumpulan keluhan gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak atau sakit di perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dispepsia merupakan kumpulan keluhan yang meliputi rasa nyeri pada ulu hati, perih, mual, rasa panas di dada , anoreksia, lekas kenyang, kembung, dan regurgitasi akibat gangguan sistem pencernaan.

Author:Taubar Dujas
Country:Solomon Islands
Language:English (Spanish)
Genre:Love
Published (Last):1 July 2016
Pages:301
PDF File Size:1.98 Mb
ePub File Size:6.69 Mb
ISBN:657-8-64942-412-6
Downloads:64291
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Yozshura



Latar belakang Angka harapan hidup di Indonesia setiap tahunnya semakin meningkat. Hal itu berdampak pada meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia lansia dibanding jumlah penduduk secara keseluruhan. Penurunan fungsi tubuh akan menurun seiring bertambahnya umur seseorang.

Hal itu membuat lansia sangat identik dengan menurunnya daya tahan tubuh dan mengalami berbagai macam penyakit. Beberapa perubahan dapat terjadi pada saluran cerna atas akibat proses penuaan, terutama pada ketahanan mukosa lambung. Penurunan tersebut akan membuat lansia rentan menderita penyakit.

Lansia akan memerlukan obat yang jumlah atau macamnya tergantung dari penyakit yang diderita. Semakin banyak penyakit pada lansia, semakin banyak jenis obat yang diperlukan. Banyaknya jenis obat akan menimbulkan masalah antara lain kemungkinan memerlukan ketaatan atau menimbulkan kebingungan dalam menggunakan atau cara minum obat. Disamping itu dapat meningkatkan resiko efek samping obat atau interaksi obat.

Dispepsia atau sakit maag adalah sekumpulan gejala sindrom yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman di epigastrium, mual, muntah, kembung, rasa penuh atau cepat kenyang, dan sering bersendawa. Kondisi tersebut dapat menurunkan kualitas hidup lansia.

Jika tidak diantisipasi dengan deteksi dini dan tindakan yang tepat, maka dapat berakibat fatal bagi lansia. Oleh karena itu, peningkatan jumlah penduduk lansia harus diimbangi dengan peningkatan pelayanan kesehatan. Harapannya agar terjadi peningkatan kualitas hidup lansia dan memperkecil resiko lansia yang menderita penyakit, salah satunya adalah dispepsia.

Tujuan 1. Untuk mengetahui definisi, etiologi, manifestasi, dan komplikasi dispepsia. Untuk mengetahui pathway dan pemeriksaan penunjang dispepsia. Untuk mengetahui pengkajian yang perlu dilakukan pada pasien lansia dengan dispepsia.

Untuk mengetahui diagnosa yang sering muncul pada pasien lansia dengan dispepsia. Definisi Dispepsia berasal dari bahasa Yunani Dys berarti sulit dan Pepse berarti pencernaan. Keluhan refluks gastroesofagus klasik berupa rasa panas di dada heartburn dan regurgitasi asam lambung, kini tidak lagi termasuk dispepsia Mansjoer, Menurut Mansjoer pengertian dispepsia terbagi dua, yaitu : 1. Dispepsia organik, bila telah diketahui adanya kelainan organik sebagai penyebabnya.

Sindroma dispepsi organik terdapat kelainan yang nyata terhadap organ tubuh misalnyatukak luka lambung, usus dua belas jari, radang pankreas, radang empedu, dan lain-lain. Dispepsia nonorganik atau dispepsia fungsional, atau dispesia nonulkus DNU , bila tidak jelas penyebabnya. Dispepsi fungsional tanpa disertai kelainan atau gangguan struktur organberdasarkan pemeriksaan klinis, laboratorium, radiologi, dan endoskopi teropong saluranpencernaan.

Biasanya berhubungan dengan pola makan yang tidak teratur, makanan yang pedas, asam, minuman bersoda, kopi, obat-obatan tertentu, ataupun kondisi emosional tertentu misalnya stress Wibawa, Etiologi Beberapa perubahan dapat terjadi pada saluran cerna atas akibat proses penuaan, terutama pada ketahanan mukosa lambung Wibawa, Dispepsia dapat disebabkan oleh kelainan organik, yaitu : a. Gangguan penyakit dalam lumen saluran cerna: tukak gaster atau duodenum, gastritis, tumor, infeksi bakteri Helicobacter pylori.

Obat-obatan: anti inflamasi non steroid OAINS , aspirin, beberapa jenis antibiotik, digitalis, teofilin dan sebagainya. Penyakit pada hati, pankreas, maupun pada sistem bilier seperti hepatitis, pankreatitis, kolesistitis kronik. Penyakit sistemik seperti diabetes melitus, penyakit tiroid, penyakit jantung koroner. Dispepsia fungsional dibagi 3, yaitu : a.

Dispepsia mirip ulkus bila gejala yang dominan adalah nyeri ulu hati. Dispepsia mirip dismotilitas bila gejala dominan adalah kembung, mual, cepat kenyang. Dispepsia non-spesifik yaitu bila gejalanya tidak sesuai dengan dispepsia mirip ulkus maupun dispepsia mirip dismotilitis. Pylori sangat besar pada kasus-kasus dengan kelainan organik Wibawa, Faktor Predisposisi Dispepsia dapat disebabkan oleh berbagai penyakit dan pola hidup.

Menurut Guyton berikut ini berbagai penyakit kondisi medis yang dapat menyebabkan keluhan dispepsia : a. Dispepsia fungsional nonulcer dyspepsia. Dispepsia fungsional adalah rasa tidak nyaman hingga nyeri di perut bagian atas yang setelah dilakukan pemeriksaan menyeluruh tidak ditemukan penyebabnya secara pasti. Dispepsia fungsional adalah penyebab maag yang paling sering.

Tukak lambung stomach ulcers. Tukak lambung adalah adanya ulkus atau luka di lambung. Gejala yang paling umum adalah rasa sakit yang dirasakan terus menerus, bersifat kronik lama dan semakin lama semakin berat. Refluks esofagitis gastroesophageal reflux disease d. Pangkreatitis e. Iritable bowel syndrome f. Pemakaian obat penghilang nyeri secara terus menerus. Obat analgesik anti inflamasi nonsteroid AINS seperti aspirin, ibuprofen dan naproxen dapat menyebabkan peradangan pada lambung.

Jika pemakaian obat — obat tersebut hanya sesekali maka kemungkinan terjadinya masalah lambung akan kecil. Tapi jika pemakaiannya secara terus menerus atau pemakaian yang berlebihan dapat mengakibatkan maag. Stress fisik. Stress fisik akibat pembedahan besar, luka trauma, luka bakar atau infeksi berat dapat menyebabkan gastritis serta pendarahan pada lambung.

Malabsorbsi gangguan penyerapan makanan i. Penyakit kandung empedu j. Penyakit liver k. Kanker lambung jarang l. Kanker esofagus kerongkongan jarang m. Penyakit lain jarang D. Patofisiologi Perubahan pola makan yang tidak teratur, obat-obatan yang tidak jelas, zat-zat seperti nikotin dan alkohol serta adanya kondisi kejiwaan stres, pemasukan makanan menjadi kurang sehingga lambung akan kosong, kekosongan lambung dapat mengakibatkan erosi pada lambung akibat gesekan antara dinding-dinding lambung, kondisi demikian dapat mengakibatkan peningkatan produksi HCL yang akan merangsang terjadinya kondisi asam pada lambung, sehingga rangsangan di medulla oblongata membawa impuls muntah sehingga intake tidak adekuat baik makanan maupun cairan Corwin, Manifestasi Klinis a.

Nyeri perut abdominal discomfort , b. Rasa perih di ulu hati, c. Mual, kadang-kadang sampai muntah, d. Nafsu makan berkurang, e. Rasa lekas kenyang, f. Perut kembung, g. Rasa panas di dada dan perut, h. Regurgitasi keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba Sujono, G. Komplikasi Penderita sindroma dispepsia selama bertahun-tahun dapat memicu adanya komplikasi yang tidak ringan. Salah satunya komplikasi dispepsia yaitu luka di dinding lambung yang dalam atau melebar tergantung berapa lama lambung terpapar oleh asam lambung.

Bila keadaan dispepsia ini terus terjadi luka akan semakin dalam dan dapat menimbulkan komplikasi pendarahan saluran cerna yang ditandai dengan terjadinya muntah darah, di mana merupakan pertanda yang timbul belakangan.

Awalnya penderita pasti akan mengalami buang air besar berwarna hitam terlebih dulu yang artinya sudah ada perdarahan awal. Tapi komplikasi yang paling dikuatirkan adalah terjadinya kanker lambung yang mengharuskan penderitanya melakukan operasi Wibawa, Penatalaksanaan Menurut Sujono , penatalaksanaan yang tepat pada pasien dengan dispepsia, antara lain : 1.

Edukasi kepada pasien untuk mengenali dan menghindari keadaan yang potensial mencetuskan serangan dispepsia 2. Modifikasi pola hidup Menghindari jenis makanan yang dirasakan sebagai faktor pencetus. Pola makan porsi kecil tetapi sering dan makanan rendah lemak.

Obat-obatan Obat-obatan yang dianjurkan adalah golongan antasida, anti sekresi dan prokinetik dapat digunakan untuk mengurangi keluhan.

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang harus bias menyingkirkan kelainan serius, terutama kanker lambung, sekaligus menegakkan diagnosis bila mungkin. Sebagian pasien memiliki resiko kanker yang rendah dan dianjurkan untuk terapi empiris tanpa endoskopi. Menurut Schwartz, M William dan Wibawa berikut merupakan pemeriksaan penunjang: a.

Hasil tes serologi positif untuk Helicobacter pylori menunjukkan ulkus peptikum namun belum menyingkirkan keganasan saluran pencernaan. Endoskopi esofago-gastro-duodenoskopi Endoskopi adalah tes definitive untuk esofagitis, penyakit epitellium Barret, dan ulkus peptikum. Biopsi antrum untuk tes ureumse untuk H. Endoskopi adalah pemeriksaan terbaik masa kini untuk menyingkirkan kausa organic pada pasien dispepsia.

Namun, pemeriksaan H. Pemeriksaan endoskopi diindikasikan terutama pada pasien dengan keluhan yang muncul pertama kali pada usia tua atau pasien dengan tanda alarm seperti penurunan berat badan, muntah, disfagia, atau perdarahan yang diduga sangat mungkin terdapat penyakit struktural.

Pemeriksaan endoskopi adalah aman pada usia lanjut dengan kemungkinan komplikasi serupa dengan pasien muda. Menurut Tytgat GNJ, endoskopi direkomendasikan sebagai investigasi pertama pada evaluasi penderita dispepsia dan sangat penting untuk dapat mengklasifikasikan keadaan pasien apakah dispepsia organik atau fungsional.

Dengan endoskopi dapat dilakukan biopsy mukosa untuk mengetahui keadaan patologis mukosa lambung. DPL : Anemia mengarahkan keganasan d. Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium termasuk hitung darah lengkap, laju endap darah, amylase, lipase, profil kimia, dan pemeriksaan ovum dan parasit pada tinja. Jika terdapat emesis atau pengeluaran darah lewat saluran cerna maka dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan barium pada saluran cerna bgian atas. Pemeriksaan Fisik Anamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien dyspepsia yang belum diinvestigasi terutama hasrus ditujukan untuk mencari kemungkinan adanya kelainan organik sebagai kausa dispepsia.

Pasien dispepsia dengan alarm symptoms kemungkinan besar didasari kelainan organik.

ASPEN ADSIM PDF

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DISPEPSIA

Keluhan Utama 1. Diagnosa Medik III. Riwayat Kesehatan a. Klien mengatakan nyeri dirasakan seperti pedis di daerah ulu hati tembus kebelakang. Nyeri dirasakan hilang timbul dengan skala nyeri 6 sedang.

MARTYROLOGIUM ROMANUM PDF

Rasa panas di dada dan perut h. Regurgitasi keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba 6. Patofisiologi Perubahan pola makan yang tidak teratur, obat-obatan yang tidak jelas, zat-zat seperti nikotin dan alkohol serta adanya kondisi kejiwaan stres, pemasukan makanan menjadi kurang sehingga lambung akan kosong, kekosongan lambung dapat mengakibatkan erosi pada lambung akibat gesekan antara dinding-dinding lambung, kondisi demikian dapat mengakibatkan peningkatan produksi HCL yang akan merangsang terjadinya kondisi asam pada lambung, sehingga rangsangan di medulla oblongata membawa impuls muntah sehingga intake tidak adekuat baik makanan maupun cairan. Pencegahan Pola makan yang normal dan teratur, pilih makanan yang seimbang dengan kebutuhan dan jadwal makan yang teratur, sebaiknya tidak mengkomsumsi makanan yang berkadar asam tinggi, cabai, alkohol, dan pantang rokok, bila harus makan obat karena sesuatu penyakit, misalnya sakit kepala, gunakan obat secara wajar dan tidak mengganggu fungsi lambung. Penatalaksanaan Medik a. Penatalaksanaan non farmakologis 1 Menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam lambung 2 Menghindari faktor resiko seperti alkohol, makanan yang peda, obat-obatan yang berlebihan, nikotin rokok, dan stres 3 Atur pola makan b.

Related Articles